Asumsi Pemakaian Pallet Priok - Target Ekspor 2009 Direvisi

Indeks Artikel
Asumsi Pemakaian Pallet Priok
Heat Treatment (HT).
Fumigasi
Pertumbuhan Ekspor 2009 Akan Menurun
Pemerintah Siapkan Revisi Target Ekspor 2009
Ekspor-Impor Anjlok, Bisnis Ekspedisi Limbung
Ekonomi
Ekspor 2009 akan turun sekitar 50
Prediksi Pertumbuhan Ekspor 2009 Minus
Target Ekspor 2009 Direvisi
Pengemasan dan Transportasi
Kemasan Kayu:
Entry Requirements
Seluruh halaman

Target Ekspor 2009 Direvisi

Kamis, 11 Desember 2008 | 18:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah akan merevisi target ekspor tahun depan karena seluruh dunia dilanda resesi. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan,
ada dua hal yang menyebabkan penurunan angka ekspor. Pertama, resesi global. Kedua, harga komoditas di seluruh dunia juga sedang turun. Namun, ia belum bisa mengungkapkan angka revisi target ekspor tahun depan. "Masih kami hitung," kata Mari di kantornya, Kamis (11/12).

Bank Dunia memperkirakan ekspor Indonesia akan melambat dari 14% menjadi 1% sampai 2%. Menurut Kepala Ekonom Bank Dunia, William Wallace, ekspor baru akan pulih menjadi 8% pada 2010. Perkembangan perekonomian global yang buruk akan mengurangi permintaan ekspor. Begitu pula, turunnya harga komoditas akan berpengaruh pada nilai ekspor, pendapatan dan investasi.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan hanya 4,4%. Angka ini jauh dari perkiraannya pada April lalu, yaitu sekitar 6,4% (Koran Tempo, Kamis, 11 Desember 2008).
Nieke Indrietta

Dari beberapa lampiran diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan-kesimpulan antara lain:

01.  ISPM # 15 sudah berjalan selama 5 tahun, selama ini Kita hanya mengadop Standard ini dari luar Negri saja.

02.  ISPM #15 diteliti dan dikembangkan di Eropa yang menggunakan iklim, bahan baku hanya 1 jenis (sotfwood), 4 musim, kelembaban suhu yang rendah, serta lingkungan yang sangat berbeda.

03.  Di daerah asalnya ISPM # 15 dapat dilakukan hanya dengan memanaskan suhu ini Kayu s/d 56˚C dengan Heat Traemtnt selama 30 menit saja dan ini bisa dicapai hanya dalam waktu 6 jam saja = 360 menit.

04.  Di Indonesia yang beriklim tropis, kelembaban tinggi, bahan baku yang bermacam-macam, lingkungan yang sangat berbeda, lebih extreme, Pemanasan dengan HT tidak bisa dilakukan karena masih bisa terserang jamur. Jika hanya dilakukan pemanasan 6 jam kadar airnya masih diatas 70%-80%.

05.  Pemanasan di Indonesia sebaiknya menggunakan KD dengan system Dry Buld & Wet Buld dikarenakan adanya perbedaan yang sangat tinggi antara kelembaban di dalam KD dan di luar KD. Perlu suatu metode yang mengendalikan kelembaban serta panas supaya Kayu bisa kering.

06.  Di Negara Tropis Kayu yang kadar airnya sudah dibawah 20% masih bisa teserang jamur, karena kelembaban pada saat penyimpanan yang sangat tinggi.

07.  Walaupun sudah dilakukan tindakan HT masih belum adanya jaminan bahwa Kemasan Kayu tidak terserang OPT.

08.  Selama ini pada proses Jasa Marking ISPM #15 belum sepenuhnya memberikan jaminan terhadap Kemasan Kayu dari reinfestasi OPT serta jamur.

09.  Beberapa Perusahaan Kemasan Kayu sudah ada yang mati suri, padahal pangsa pasar Kemasan Kayu yang terbuka lebar. Hali ini disebabkan oleh beberapa oknum Proviver yang tidak menjalankan proses Marking dengan benar berdasarkan Standard yang telah ditetapkan oleh BARANTAN.

Saran-Saran :

01.  Perlunya Alternatif Treatment yang cocok dengan situasi dan kondisi di Negara Kita, Alternatih harus  berpegang teguh pada prinsip-prinsip maupun peraturan IPPC sebagai bentuk penyempurnaan Standard Treatment selama ini.

02.   Perlunya tindakan yang sangat tegas terhadap pelaku-pelaku yang tidak menjalankan standard dengan benar.

03.  Agar dibuat suatu system/metode yang dapat memberikan jaminan tidak terjadinya serangan reinfestasi OPT dan jamur terhadap Kemasan Kayu yang dihasilkan. Metode ini harus mudah diimplementasikan, efisien, murah, tidak merusak lingkungan, serta masih mengikuti ketentuan dan persyaran dari IPPC.

04.  Indonesia sangatlah luas, merupakan Negara Kepulauan terbesar di dunia sehingga masih adanya keterbatasan fasilitas sumber daya Infrasrtuktur (KD, Fumigasi)  maupun Sumber Daya Manusia. Jadi belum ada jaminan fasilitas ini dapat dipenuhi di seluruh wilayah karena keterbatasan diatas juga keterbatasan sumber daya financial lainnya.

Beberapa lampiran Peraturan maupun keterangan ISPM di luar Negri dan Penjelasan KBRI di Canada mengenai ISPM #15



logo-ksj2013