Asumsi Pemakaian Pallet Priok - Ekspor-Impor Anjlok, Bisnis Ekspedisi Limbung

Indeks Artikel
Asumsi Pemakaian Pallet Priok
Heat Treatment (HT).
Fumigasi
Pertumbuhan Ekspor 2009 Akan Menurun
Pemerintah Siapkan Revisi Target Ekspor 2009
Ekspor-Impor Anjlok, Bisnis Ekspedisi Limbung
Ekonomi
Ekspor 2009 akan turun sekitar 50
Prediksi Pertumbuhan Ekspor 2009 Minus
Target Ekspor 2009 Direvisi
Pengemasan dan Transportasi
Kemasan Kayu:
Entry Requirements
Seluruh halaman

Ekspor-Impor Anjlok, Bisnis Ekspedisi Limbung

Jumat, 27 Maret 2009 | 13:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gejolak krisis global menyebabkan kegiatan ekspor-impor terus menurun. Yang terkena imbasnya tidak hanya produsen barang di dalam negeri. Namun, kondisi ini juga memukul pengusaha jasa pengiriman barang atau ekspedisi. Alhasil, sebagian perusahaan ekspedisi pun terpaksa gulung tikar.

Saat ini, volume pengiriman barang lewat perusahaan ekspedisi memang terus merosot . "Lihat ke gudang-gudang logistik, gudang container frigth station, dan pergerakan truk pengangkut. Semua volumenya menurun merata," kata Iskandar Zulkarnain, Ketua Umum Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Seluruh Indonesia (Gafeksi).

Penyebabnya, para produsen mengurangi aktivitasnya. "Volume penurunannya sangat drastis. Khusus ekspor, anjloknya bisa 30%," ungkap Vitra Suhendra, Manajer Pemasaran PT Scanwell Logistics, Kamis (26/3).

Kompak turunkan tarif

Dalam kondisi seperti ini, usaha ekspedisi terpaksa memangkas tarif hingga 50%. Mereka juga melakukan penghematan operasional. "Kami menghemat pemakaian listrik dan telepon. Biasanya, pengeluaran operasional per bulan sekitar Rp 600 juta, kini kami harus menurunkan hingga Rp 300 juta," ungkap Vitra.

Sementara itu, Direktur Utama PT Trigita Upaya Makmur Soejanto mengaku, penurunan volume pekerjaan ekspedisi di perusahaannya mencapai lebih dari 50%. Celakanya, jumlah pesanan baru juga terus melorot. "Biasanya, kami mampu menangani sekitar 300 kontainer per bulan. Setelah krisis, kami hanya mengerjakan 50 kontainer-60 kontainer," keluhnya.

Salah satu upaya Trigita untuk menaikkan permintaan adalah dengan memotong tarif hingga 10%. "Kondisi ini lebih parah dibanding krisis Indonesia pada tahun 1998 silam," tegas Soejanto.

Niko Ardian, Wakil Direktur Operasional CV Sarana Agung Mulia Sejahtera (SAMS), Lampung, juga membeberkan, pengguna jasa Sarana melorot antara 20% dan 50% dalam lima bulan terakhir. "Biasanya, kami memberangkatkan barang kurang lebih 25 sampai 30 truk per hari ke beberapa kota di Sumatera dan Jawa. Tapi, sekarang, bisa berangkat dengan 15 truk saja sudah bagus," keluhnya.

Niko bilang, penurunan permintaan ini memaksanya memangkas tarif hingga 10%. "Kami terpaksa memilih langkah ini karena takut kehilangan pelanggan, apalagi para pesaing juga kompak menurunkan tarif," tandasnya.

Melihat kondisi ini, Iskandar bilang, dalam waktu dekat, Gafeksi dan pemerintah akan membahas kondisi ini, apalagi masalah ini telah menyebabkan banyak pengusaha pengurusan jasa kapabeanan (PPJK), ekspedisi muatan kapal laut (EMKL), tidak lagi mengerjakan apa-apa alias menganggur. "Contohnya, di Tanjung Emas, Semarang, ada 64 PPJK gulung tikar; di Tanjung Perak ada 125 PPJK; dan yang paling parah di Tanjung Priok, ada 200 lebih PPJK gulung tikar," ujar Iskandar. (Yudo Widiyanto/Kontan)



logo-ksj2013