Asumsi Pemakaian Pallet Priok

Indeks Artikel
Asumsi Pemakaian Pallet Priok
Heat Treatment (HT).
Fumigasi
Pertumbuhan Ekspor 2009 Akan Menurun
Pemerintah Siapkan Revisi Target Ekspor 2009
Ekspor-Impor Anjlok, Bisnis Ekspedisi Limbung
Ekonomi
Ekspor 2009 akan turun sekitar 50
Prediksi Pertumbuhan Ekspor 2009 Minus
Target Ekspor 2009 Direvisi
Pengemasan dan Transportasi
Kemasan Kayu:
Entry Requirements
Seluruh halaman

Asumsi Pemakaian Pallet Priok

cont flow

( Sumber : Tanjung Priok Port)

 

Berdasarkan Sumber Statistik berupa informasi arus keluar (ekspor) Peti kemas dari Terminal Pelabuhan Laut Tanjung Priok. Pada tahun 2008 yaitu 3.984.278 Teus (Twenty Foot Equivalent Unit Standard) itu berarti jumlahnya 3.984.278 x 20’.

Saat ini belum ada jumlah pengunanan secara resmi terhadap Kemasan Kayu yang dipergunakan dalam perdagangan Internasional. Namun demikian dapat diambil suatu Asumsi sebagai berikut :

Jumlah Peti Kemas yang keluar/ekspor                       3.984.278 Container 20’

Asumsi menggunakan Kemasan Kayu 50%               1.992.139 Container 20’

Asumsi Kemasan Kayu Standard ISPM 75%              1.494.104 Conts / tahun

1.494.104 Conts : 12 =                                                     124.508 Conts/bulan

Asumsi 124.508 x  10 Pallets/20’ pemakaian             1.245.080 Pallets/bulan

Jumlah pemakaian rata–rata Pallet 1.245.080 / bulan selama tahun 2008 ini berdasarkan data diatas. Pada tahun 2009 terjadi krisis dunia. Pemerintah mengasumsikan adanya penurunan ekspor sebanyak 50% dari tahun 2008 juga pertumbuhan negatif. Pada tahun 2009 jika diambil data pemakaian Pallet 1.245.080 x 50% = 622.540 Pallet/bulan selama tahun 2009.

Berdasarkan Standard BARANTAN yang tertuang pada Pedoman Registrasi Kemasan Kayu pada Marking HT dan MB yang mana Provider harus menggunakan Fumigasi AFASID dan KD yang sudah diuji kelayakan. Berikut lampiran atas proses tersebut sebagai berikut :


HEAT  TREATMENT (HT).

Kemasan Kayu Kadar Airnya tidak boleh lebih dari 20%. Untuk Provider binaan wilayah Korlap Tanjung Priok, Soekarno Hatta, Merak dan Bandung KD yang telah diuji kelayakan tidak lebih dari 20 KD berupa milik sendiri dan MOU. Untuk mencapai MC Max 20 % diperlukan waktu min 6 hari. Itupun harus bahan bakunya yang di KD, kalau Kemasannya yang di KD akan terjadi kerusakan yang besar sehingga kemasan tidak dapat dipergunakan. Perhitungan kapasitas KD sebagai berikut :

Kapasitas bahan baku 40-50 M3/Chamber  = 1.000 Pallets

Lama Proses KD s/d MC 20%                         = 6 hari

Jumlah Asumsi KD wilayah diatas                  = 20 Chamber

Kapasitas KD dalam 1 bulan                           = 4 kali proses

Berarti kapasitas KD terpasang                     = 1.000 x 20 x 4 = 80.000 Pallets/bulan

Di lapangan ditemukan juga bahwa Kemasan yang telah di lakukan HT dan MC nya dibawah 20% ternyata masih juga terserang reinfestasi OPT & Jamur seperti terlihat dibawah ini.

01. Kayu sudah diberi perlakuan HT, tapi masih terjadi serangan  reinfestasi OPT.

ht1

02. Kayu dengan Kadar Air dibawah 20% tapi masih terserang Jamur.

ade


FUMIGASI

Kemasan Kayu Kadar Airnya tidak boleh lebih dari 30%. Dari jumlah kapasitas KD terpasang 80.000 Pallets/bulan berarti masih ada (1.245.080 – 80.000) =  1.165.080 Pallet yang harus dilakukan dengan Fumigasi AFASID.

Asumsi jika Palletnya saja  yang difumigasi Standard BARANTAN dalam Container 20’ berisi 150 Pallet berarti :

Pemakaian Methyl 0,048 Kg/M3 x 33 M3/20’ = 1,584 Kg/20’

1.245.080 Pallet : 150 = 8.300 Cont/20’ x 1,584 = 13,147 Kg/bulan = 13,147 Ton pemakaian Methyl Bromaide setiap bulannya ?.

Dibawah ini dilampirkan Asumsi-asumsi dari berbagai sumber mengenai prediksi Ekspor pada tahun 2009 sebagai berikut :


Pertumbuhan Ekspor 2009 Akan Menurun


Jakarta, (ANTARA News) - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memperkirakan pertumbuhan ekspor pada tahun 2009 akan menurun akibat dampak krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat.

Meski demikian, target ekspor pada tahun ini sebesar 12%, menurutnya akan tetap tercapai.

"Jadi untuk tahun ini kita optimistis masih memenuhi target. Tahun depan memang akan ada `slow down`. Semua negara akan mengalami itu," kata Mendag usai rapat kabinet mengenai dampak krisis keuangan AS di Gedung Setneg Jakarta, Senin.

Menurutnya, nilai ekspor migas dari Januari hingga Agustus meningkat hingga 30% sementara ekspor non migas tumbuh 22%.

Sementara, untuk tahun depan, Mendag juga mengkhawatirkan turunnya harga komoditas-komoditas akan mempengaruhi volume perdagangan.

"Kita bisa lihat waktu harga naik, volume turun. Sekarang akan ada koreksi, dari segi volume dan value. Slow down in demand pasti akan terjadi. Memang kita harus bisa mengantisipasinya. Tahun depan akan ada slow demand. Ini tergantung dari pada slow down ekonomi global," katanya.

Untuk mengantisipasi krisis keuangan AS itu, Mendag mengatakan akan terus melakukan diversifikasi tujuan ekspor ke negara lain seperti Timur Tengah dan Asia.

"Tentu saja yang sudah kita lakukan seperti diversifikasi pasar, seperti tahun 2003 19% ke Eropa. Tapi sekarang 13% ke Eropa. Terus ke Amerika dari 40% menjadi sekitar 12%, yang meningkat itu ke China, India, Korea, Taiwan dan pasar Asia lainnya," katanya.

Pemerintah, lanjutnya akan terus melakukan diversifikasi pasar ke Timur Tengah, Rusia, Eropa tengah, dan terus melanjutkan pertumbuhan di Asia. "Perjanjian-perjanjian regional di Asia segala macam itu sudah selesai," katanya.

Selain itu, pemerintah juga akan mendorong permintaan pasar di dalam negeri sehingga produksi nasional bisa terus meningkat seperti CPO dengan memberikan insentif bagi konsumsi di dalam negeri.

"Seperti itu yang akan kita lakukan jadi insentif untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri, kedua menjaga daya saing ekspor untuk 2009," katanya.

Hal lain yang harus dilakukan adalah mengurangi ekonomi biaya tinggi, seperti masalah pelabuhan, logistik, penyederhanaan prosedur bea dan cukai, restitusi pajak dan bea masuk oleh Depkeu. (*)


Pemerintah Siapkan Revisi Target Ekspor 2009

detikFinance » Ekonomi

Kamis, 04/12/2008 13:13 WIB
Anwar Khumaini - detikFinance

anwa1

Foto: lih/detikFinance

Jakarta - Pemerintah mengakui semester pertama di 2009 akan berat bagi perekonomian nasional. Pemerintah pun akhirnya menyiapkan revisi target ekspor 2009.

Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (4/12/2008).

"Paruh pertama 2009 itu pasti berat untuk semua negara, termasuk Indonesia. Saya belum bisa mengeluarkan angka (berapa dampak penurunan ekspor tahun depan). Kami internal pemerintah masih rapat terus untuk melakukan revisi," ujarnya.

Meski demikian, komoditas CPO diperkirakan masih akan stabil dan tetap tumbuh walaupun persentasenya sangat kecil. Hanya saja, berapa harga CPO tahun depan masih menjadi tanda tanya bagi pemerintah.

"Kalau harga tahun ini kan tinggi ya, rata-rata harga tahun ini US$ 700, dibanding tahun lalu US$ 630-an, tahun 2006, US$ 500 sekian. Ini dia posisi sekarang kan harganya US$ 500 sekian. Tahun depan harga rata-ratanya berapa. Itu yang masih belum kita ketahui," jelas Mari.

Mari mengatakan, jika dilihat dari volume pasokan dan permintaan, seharusnya harga CPO masih akan stabil tahun depan. Tetapi Indonesia yang juga produsen dan eksportir terbesar CPO sudah selayaknya tetap mencari pasar tujuan baru.

"India, China masih ada pertumbuhan, tapi Amerika dan Eropa kan turun. Kita kan juga ekspor kelapa sawit ke sana, terutama Eropa. Kita harus cari pasar yang baru, apa itu Rusia atau Timur Tengah untuk mengisi turunnya pasar Eropa," jelasnya.

Sementara itu, untuk produk-produk lain seperti tekstil, Mari memprediksi nilai ekspornya belum tentu akan turun. Karena ada pengalihan permintaan dari China ke Indonesia. Agar nilai ekspor tidak turun, pasar tujuan ekspor memang harus segera diantisipasi.

"Misalnya pasar yang terbuka di Jepang ini yang harusnya diambil oleh
perusahaan-perusahan eksportir TPT (tekstil dan produk tekstil) kita dan sepatu. Karena itu kan langsung jadi 0 bea masuknya. Jadi ini peluang," ujar Mari optimistik.

Selain Jepang, Mari juga mengincar pasar nontradisional, karena pasar ke Amerika dan Eropa sudah pasti turun atau mengambil alih ke pasar lain. "Tadinya itu diisi oleh China, kita potensi bersaing dengan mereka. tapi tetap harus ada upayanya," kata dia.

Bagaimana kita bisa bersaing dengan China?

"Ini ada satu fenomena. China mata uangnya menguat, kita melemah. Dari sisi itu aja itu sudah ada competitiveness sendiri. Yang kedua, China sebelum krisis pun biaya tenaga kerjanya, peraturan tenaga kerjanya itu sudah bertambah meningkat. Gajinya naik. Ada masalah peraturan tenaga kerja yang dianggap menyulitkan sehingga sudah banyak minat relokasi dari China ke tempat lain untuk produksi maupun sumber untuk membeli barangnya. Itu larinya ke Indonesia dan Vietnam. Jadi ini peluang. kita sudah promosi. Guanzhou juga sudah ke sini," pungkasnya.

(anw/lih)


Ekspor-Impor Anjlok, Bisnis Ekspedisi Limbung

Jumat, 27 Maret 2009 | 13:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gejolak krisis global menyebabkan kegiatan ekspor-impor terus menurun. Yang terkena imbasnya tidak hanya produsen barang di dalam negeri. Namun, kondisi ini juga memukul pengusaha jasa pengiriman barang atau ekspedisi. Alhasil, sebagian perusahaan ekspedisi pun terpaksa gulung tikar.

Saat ini, volume pengiriman barang lewat perusahaan ekspedisi memang terus merosot . "Lihat ke gudang-gudang logistik, gudang container frigth station, dan pergerakan truk pengangkut. Semua volumenya menurun merata," kata Iskandar Zulkarnain, Ketua Umum Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Seluruh Indonesia (Gafeksi).

Penyebabnya, para produsen mengurangi aktivitasnya. "Volume penurunannya sangat drastis. Khusus ekspor, anjloknya bisa 30%," ungkap Vitra Suhendra, Manajer Pemasaran PT Scanwell Logistics, Kamis (26/3).

Kompak turunkan tarif

Dalam kondisi seperti ini, usaha ekspedisi terpaksa memangkas tarif hingga 50%. Mereka juga melakukan penghematan operasional. "Kami menghemat pemakaian listrik dan telepon. Biasanya, pengeluaran operasional per bulan sekitar Rp 600 juta, kini kami harus menurunkan hingga Rp 300 juta," ungkap Vitra.

Sementara itu, Direktur Utama PT Trigita Upaya Makmur Soejanto mengaku, penurunan volume pekerjaan ekspedisi di perusahaannya mencapai lebih dari 50%. Celakanya, jumlah pesanan baru juga terus melorot. "Biasanya, kami mampu menangani sekitar 300 kontainer per bulan. Setelah krisis, kami hanya mengerjakan 50 kontainer-60 kontainer," keluhnya.

Salah satu upaya Trigita untuk menaikkan permintaan adalah dengan memotong tarif hingga 10%. "Kondisi ini lebih parah dibanding krisis Indonesia pada tahun 1998 silam," tegas Soejanto.

Niko Ardian, Wakil Direktur Operasional CV Sarana Agung Mulia Sejahtera (SAMS), Lampung, juga membeberkan, pengguna jasa Sarana melorot antara 20% dan 50% dalam lima bulan terakhir. "Biasanya, kami memberangkatkan barang kurang lebih 25 sampai 30 truk per hari ke beberapa kota di Sumatera dan Jawa. Tapi, sekarang, bisa berangkat dengan 15 truk saja sudah bagus," keluhnya.

Niko bilang, penurunan permintaan ini memaksanya memangkas tarif hingga 10%. "Kami terpaksa memilih langkah ini karena takut kehilangan pelanggan, apalagi para pesaing juga kompak menurunkan tarif," tandasnya.

Melihat kondisi ini, Iskandar bilang, dalam waktu dekat, Gafeksi dan pemerintah akan membahas kondisi ini, apalagi masalah ini telah menyebabkan banyak pengusaha pengurusan jasa kapabeanan (PPJK), ekspedisi muatan kapal laut (EMKL), tidak lagi mengerjakan apa-apa alias menganggur. "Contohnya, di Tanjung Emas, Semarang, ada 64 PPJK gulung tikar; di Tanjung Perak ada 125 PPJK; dan yang paling parah di Tanjung Priok, ada 200 lebih PPJK gulung tikar," ujar Iskandar. (Yudo Widiyanto/Kontan)


Ekonomi

06/12/2008 - 15:15

Mendag: Ekspor 2009 Turun Drastis

mendag1

Mari Elka Pangestu
(inilah.ocm/Wirasatria)

INILAH.COM, Beijing - Pertumbuhan ekspor Indonesia tahun depan diperkirakan turun drastis menyusul terjadinya krisis finansial global yang berpengaruh dengan melemahnya permintaan produk di pasaran internasional.

Mendag Mari Elka Pangestu menyatakan krisis keuangan akan mempengaruhi permintaan sejumlah produk di pasar internasional. "Perkiraan target ekspor optimistik tahun depan akan turun drastis dibandingkan dengan 2008. Kita harus antisipasi itu," katanya di sela-sela memberikan pengarahan Rakor Kerjasama Perdagangan Internasional Dengan Perwakilan RI di Luar Negeri.

Hadir dalam acara itu Dubes RI untuk China Sudrajat, sejumlah eselon I Depdag, serta 50 kepala perwakilan dagang Indonesia di kawasan Asia, Afrika dan Timur Tengah.

Menurut Mari, penurunan drastis pertumbuhan ekspor nasional tahun depan antara lain juga disebabkan oleh turunnya harga sejumlah komoditas di pasar internasional serta volume permintaan dari sejumlah negara yang juga tertekan.

Dia memperkirakan sejumlah produk yang akan mengalami penurunan volume dan nilai antara lain karet, serta produk pertambangan seperti nikel, aluminium, serta tembaga.

"Akibat adanya kelesuan di industri otomotif dunia maka permintaan terhadap produk pertambangan juga akan melemah dan itu juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia," ujarnya di Beijing, Sabtu (6/12).

Adapun produk lain seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO) diperkirakan ekspornya masih akan tumbuh karena permintaan dari negara tujuan ekspor terbesar seperti India dan China masih besar terkait dengan jumlah penduduk yang juga besar.

Harga komoditas perkebunan seperti CPO masih menjadi andalan peningkatan nilai ekspor Indonesia, karena peningkatan harga komoditas di pasar dunia. Pada 2008, harga rata-rata CPO dunia mencapai sekitar US$ 600-700 per ton atau naik dibandingkan dengan 2007 yang rata-rata harganya mencapai US$ 632 per ton. Pada 2005, bahkan harga CPO rata-rata mencapai US$ 520 dolar per ton.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor berbagai komoditas unggulan Indonesia mulai menunjukkan penurunan seiring menurunnya permintaan dari negara tujuan dan anjloknya harga komoditas.

Ekspor nonmigas selama Oktober sebesar US$ 9 miliar atau turun 8,10% dibandingkan dengan September, sedangkan jika dibandingkan dengan Oktober 2007 ekspor nonmigas naik 8,22%. Nilai ekspor kumulatif Januari-Oktober 2008 mencapai US$ 118,43 miliar.


sindo1

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memprediksikan ekspor 2009 akan turun sekitar 50% dibanding tahun lalu. Padahal, berdasarkan data statistik tahun 2008 lalu, ekspor sudah mengalami penurunan 36%.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Kadin MS Hidayat dalam CEO Dialogue Forum Indonesia - Korea, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Sabtu (7/3/2009).

"Penurunan tersebut kita antisipasi dengan dua cara yaitu memperkuat demand domestik dan memperketat impor barang konsumsi yang sudah ada subtitusinya di pasar nasional kecuali impor barang modal dan raw materials," ujarnya.

Selain itu perlu juga untuk mencari pasar baru untuk mengembangkan pasar ekspor meskipun kondisi saat ini masih sulit. Hidayat mencontohkan bahwa kondisi negara-negara ASEAN saat jauh lebih berat dari kita.

Hidayat menyebutkan kendalanya saat ini adalah banking networking yang belum tentu bisa match, yang bisa langsung memperkuat pasar domestik. Menurutnya, penurunan BI Rate tidak bisa mendorong suku bunga pinjaman untuk langsung turun.

"Saya akan ambil inisiatif untuk bicara dengan BI dan perbankan. Kalau perbankan tidak mau ambil risiko seperti sekarang, berarti tidak mendukung sektor riil yang diperlukan untuk menunjang perekonomian domestik," pungkasnya. (rhs)

 


Prediksi Pertumbuhan Ekspor 2009 Minus

Senin, 09 Februari 2009 10:36 Redaksi-1

Pertumbuhan ekspor perlu diwaspadai, seiring menurunnya permintaan ekspor dari pasar internasional. Tak sedikit pula, banyak negara yang berkecenderungan melakukan proteksi. Bahkan ada prediksi pertumbuhan ekspor nonmigas (tidak termasuk batubara) pada tahun 2009 akan tumbuh minus 3%.

Penurunan permintaan pasar internasional karena dampak krisis global akan sangat berpengaruh terhadap ekspor Indonesia, terutama sangat berpengaruh terhadap industri yang berorientasi ekspor. Ditambah lagi, kebijakan yang mengarah pada proteksi cenderung dilakukan, seperti AS yang akan menerapkan regulasi untuk mendorong belanja produk lokal.

Keadaan-keadaan seperti ini bukan tidak mungkin akan menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Belum lama ini dikatakan oleh Pengamat Ekonomi Iman Sugema di Jakarta, diprediksikan pertumbuhan ekspor nonmigas tidak termasuk batubara minus 3% di tahun 2009.

Menurutnya, turunnya permintaan dari dunia akan sangat berdampak pada ekspor negara-negara berkembang. Paling optimis pertumbuhan tahun ini sebesar 0%.

“Kalau output yang dibutuhkan oleh permintaan dunia turun, yang paling terkena adalah ekspor dari negara berkembang perkiraan paling optimis tahun ini hanya 0%,” kata Iman.

Dampak paling buruk dengan terjadinya pertumbuhan ekspor yang rendah akan merambah pedesaan. Terutama berpengaruh terhadap pendapatan pekerja yang akan turut berkurang pula, pekerja industri manufaktur dan industri dasar. Menurut Iman Sugema, sebagian gaji pada umumnya dikirim keluarga di desa.

Apalagi kalau terjadi pemutusan hubungan kerja,otomatis perekonomian pedesaan turut bergejolak. Iman mengusulkan, stimulus pajak yang dikeluarkan pemerintah sebaiknya digunakan sebagai investasi langsung supaya perekonomian tetap berjalan.

Ihsan-asisten


Target Ekspor 2009 Direvisi

Kamis, 11 Desember 2008 | 18:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah akan merevisi target ekspor tahun depan karena seluruh dunia dilanda resesi. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan,
ada dua hal yang menyebabkan penurunan angka ekspor. Pertama, resesi global. Kedua, harga komoditas di seluruh dunia juga sedang turun. Namun, ia belum bisa mengungkapkan angka revisi target ekspor tahun depan. "Masih kami hitung," kata Mari di kantornya, Kamis (11/12).

Bank Dunia memperkirakan ekspor Indonesia akan melambat dari 14% menjadi 1% sampai 2%. Menurut Kepala Ekonom Bank Dunia, William Wallace, ekspor baru akan pulih menjadi 8% pada 2010. Perkembangan perekonomian global yang buruk akan mengurangi permintaan ekspor. Begitu pula, turunnya harga komoditas akan berpengaruh pada nilai ekspor, pendapatan dan investasi.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan hanya 4,4%. Angka ini jauh dari perkiraannya pada April lalu, yaitu sekitar 6,4% (Koran Tempo, Kamis, 11 Desember 2008).
Nieke Indrietta

Dari beberapa lampiran diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan-kesimpulan antara lain:

01.  ISPM # 15 sudah berjalan selama 5 tahun, selama ini Kita hanya mengadop Standard ini dari luar Negri saja.

02.  ISPM #15 diteliti dan dikembangkan di Eropa yang menggunakan iklim, bahan baku hanya 1 jenis (sotfwood), 4 musim, kelembaban suhu yang rendah, serta lingkungan yang sangat berbeda.

03.  Di daerah asalnya ISPM # 15 dapat dilakukan hanya dengan memanaskan suhu ini Kayu s/d 56˚C dengan Heat Traemtnt selama 30 menit saja dan ini bisa dicapai hanya dalam waktu 6 jam saja = 360 menit.

04.  Di Indonesia yang beriklim tropis, kelembaban tinggi, bahan baku yang bermacam-macam, lingkungan yang sangat berbeda, lebih extreme, Pemanasan dengan HT tidak bisa dilakukan karena masih bisa terserang jamur. Jika hanya dilakukan pemanasan 6 jam kadar airnya masih diatas 70%-80%.

05.  Pemanasan di Indonesia sebaiknya menggunakan KD dengan system Dry Buld & Wet Buld dikarenakan adanya perbedaan yang sangat tinggi antara kelembaban di dalam KD dan di luar KD. Perlu suatu metode yang mengendalikan kelembaban serta panas supaya Kayu bisa kering.

06.  Di Negara Tropis Kayu yang kadar airnya sudah dibawah 20% masih bisa teserang jamur, karena kelembaban pada saat penyimpanan yang sangat tinggi.

07.  Walaupun sudah dilakukan tindakan HT masih belum adanya jaminan bahwa Kemasan Kayu tidak terserang OPT.

08.  Selama ini pada proses Jasa Marking ISPM #15 belum sepenuhnya memberikan jaminan terhadap Kemasan Kayu dari reinfestasi OPT serta jamur.

09.  Beberapa Perusahaan Kemasan Kayu sudah ada yang mati suri, padahal pangsa pasar Kemasan Kayu yang terbuka lebar. Hali ini disebabkan oleh beberapa oknum Proviver yang tidak menjalankan proses Marking dengan benar berdasarkan Standard yang telah ditetapkan oleh BARANTAN.

Saran-Saran :

01.  Perlunya Alternatif Treatment yang cocok dengan situasi dan kondisi di Negara Kita, Alternatih harus  berpegang teguh pada prinsip-prinsip maupun peraturan IPPC sebagai bentuk penyempurnaan Standard Treatment selama ini.

02.   Perlunya tindakan yang sangat tegas terhadap pelaku-pelaku yang tidak menjalankan standard dengan benar.

03.  Agar dibuat suatu system/metode yang dapat memberikan jaminan tidak terjadinya serangan reinfestasi OPT dan jamur terhadap Kemasan Kayu yang dihasilkan. Metode ini harus mudah diimplementasikan, efisien, murah, tidak merusak lingkungan, serta masih mengikuti ketentuan dan persyaran dari IPPC.

04.  Indonesia sangatlah luas, merupakan Negara Kepulauan terbesar di dunia sehingga masih adanya keterbatasan fasilitas sumber daya Infrasrtuktur (KD, Fumigasi)  maupun Sumber Daya Manusia. Jadi belum ada jaminan fasilitas ini dapat dipenuhi di seluruh wilayah karena keterbatasan diatas juga keterbatasan sumber daya financial lainnya.

Beberapa lampiran Peraturan maupun keterangan ISPM di luar Negri dan Penjelasan KBRI di Canada mengenai ISPM #15


Pengemasan dan Transportasi

Selain truk, umumnya barang-barang impor memasuki Kanada lewat laut, biasanya dalam unit kontainer berukuran 20' - 40'. Pengiriman kecil biasanya diberikan pada konsolidator yang membuat muatan kontainer (LCL). Persyaratan untuk surat-surat bea cukai (faktur, sertifikat negara asal, catatan fumigasi, formulir pernyataan impor, dll) diatur oleh Canada Border Service Agency. Karena tarif bea masuk tergantung pada lokasi negara asal produk, sertifikat negara asal sangat penting bagi eksportir dan importir.

Umumnya, kotak kemasan harus dilabeli dalam bahasa Inggris dan Perancis dengan informasi berikut:

  • Nama dan jenis produk;
  • Berat kotak dalam pon dan kilogram dan jumlah barang per container;
  • Ukuran kotak;
  • Negara (dan daerah, bila ada) asal;
  • Nama dan alamat pihak manufaktur atau eksportir;
  • UPC/PLU atau barcode lainnya, identik dengang yang ada di tiap produk;
  • Nomor lot (untuk mengidentifikasi pengiriman individu).

Haruslah ada konsistensi pada ukuran dan kemasan paket, pemuatan kontainer yang teratur, tanda pengiriman di master pack dan nomor artikel di pembungkus bagian dalam. Kontainer pengiriman harus ditandai atau ditulis dengan jelas minimal di dua sisi dengan semua penanda kode dan dengan tinta tahan air. Karena buyer biasanya menggunakan kemasan yang sama untuk mengirimkan produk keluar dari gudang mereka, paket tersebut haruslah cukup kokoh untuk penanganan berkali-kali. Kemasan satuan haruslah rapi dan erat untuk melindungi isi dan menjaga kualitasnya; material yang digunakan haruslah aman dan higienis dan harga yang seimbang dengan isinya. Karton harus tahan benturan dan guncangan. Karton bergelombang yang tahan uji sebesar dua ratus pon adalah yang umum dipakai, dengan material bagian dalam yang mencukupi untuk menghindarkan dari rusaknya permukaan cat/lapisan. Komponen harus dibungkus dalam kemasan plastik dan karton yang tertutup rapat untuk mencegah kelembaban selama transportasi. Dengan alasan lingkungan, kemasan yang bisa digunakan kembali lebih disukai daripada yang sekali pakai. Pengemasan yang sesuai sangat penting karena pengemasan yang dibawah standar akan merusak produk dan menciptakan masalah bagi importir sewaktu membersihkan dan memasarkan produk tersebut. Importir tersebut mungkin akan menolak untuk melakukan bisnis lebih jauh dengan supplier yang bersangkutan.

Biaya pengiriman mencakup sebagian besar dari biaya pendaratan, mulai dari 10% sampai 25% untuk produk-produk yang lebih besar. Karenanya, eksportir di beberapa negara mulai menerapkan beberapa prosedur berikut untuk pengiriman:

  • Komponen besar untuk dirakit di Kanada;
  • Flat pack komposit, unit siap rakit untuk perakitan pabrik dan penyelesaian akhir;
  • Flat pack komposit, sudah selesai dan siap dirakit oleh konsumen.

Kemasan furniture haruslah dibungkus dengan rapi dan ketat untuk melindungi isi dan menjaga kualitas; bahan yang digunakan haruslah aman dan higienis dan dengan harga yang sebanding dengan isi kemasan. Karton harus melewati uji guncangan dan benturan. Karton bergelombang dua ratus pon adalah yang umum, dengan bahan interior yang memadai untuk mencegah kerusakan pada lapisan permukaan. Komponen harus dikemas dalam kemasan plastik dan karton yang tersegel rapat untuk mencegah penyerapan kelembaban selama transportasi.

comm2


Kemasan Kayu:

Untuk mencegah terjadinya penyebaran serangga eksotis dan pembawa penyakit seperti ngengat gipsi Asia, kumbang tanduk panjang Asia, kumbang cemara, kumbang kulit pohon Eropa, kumbang cemara coklat bertanduk panjang, pengebor kayu jati hijau, dan wabah kematian seketika pohon ek, seluruh spesies kayu alam yang digunakan sebagai pembungkus atau bahan kemasan lain harus terlebih dahulu dipanaskan, difumigasi atau diberi bahan pengawet kimia, cara ini dikenal dengan Standard ISPM #15. Peraturan ini terutama berlaku untuk impor dari Cina. Material kemasan seperti ini harus benar-benar bebas dari kulit pohon dan binatang. Kayu hasill manufaktur dan partikel kayu seperti serbuk gergaji dan kayu serut yang digunakan sebagai material kemasan tidak terkena peraturan ini. Peraturan yang sama juga diterapkan untuk material pembungkus yang mengandung jerami untuk mencegah masuknya dan menyebarnya kumbang daun cereal di negara ini. Semua kiriman yang mengandung kemasan dari kayu padat harus disertai Sertifikat Perawatan atau Phytosanitary resmi dari otoritas perlindungan tanaman resmi di negara eksportir, menyatakan kalau produk tersebut telah dibersihkan. Pengiriman yang tidak mengandung kayu padat harus menyatakan hal tersebut dalam dokumen pendukung. Semua kiriman yang mengandung material yang tidak memenuhi regulasi Kanada bisa disita atau dilarang masuk ke Kanada, dengan segala biaya yang timbul menjadi tanggungan importir. Detail lebih lanjut mengenai hal ini bisa didapatkan lewat www.inspection.gc.ca/english/plaveg/for/cwpc/wdpkgqae.shtml .


D-98-08: Entry Requirements for Wood Packaging Materials Produced in All Areas Other than the Continental United States

EFFECTIVE DATE: November 3, 2008
(8th Revision)

CANADIAN FOOD INSPECTION AGENCY
59 Camelot Drive
Ottawa, Ontario, Canada, K1A 0Y9
(Tel.: 613-225-2342; Fax: 613-228-6602)

Appendix 1

Approved Methods of Treatment for Entry into Canada

1. Heat Treatment

All wood packaging materials material must be heated to a minimum internal wood core temperature of 56°C for 30 minutes. Kiln-drying, chemical pressure impregnation, or other treatments may be used as a means of achieving heat treatment provided that the above temperature and time requirements are met.

or

2.  Fumigation

Wood may be fumigated with methyl bromide at normal atmospheric pressure at the following rates:

temp

The minimum temperature must not be less than 10°C and the minimum exposure time must be at least 24 hours. Monitoring of concentrations must be carried out at a minimum of 2, 4 and 24 hours after application of the fumigant.

Analisa ini disampaikan sebagai bahan pendukung maupun pertimbangan yang akan diambil oleh Otoritas. Analisa ini juga dibuat tanpa memojokan suatu Institusi maupun lainnya. Hanya dibuat sebagai bahan pemikiran untuk langkah-langkah kedepan oleh pengambil keputusan untuk menetukan kebijakan. (Budi Santoso, Cileungsi Jum’at subuh 03.12   23 Januari 2009)

logo-ksj2013