Efikasi Larutan 8 Dewa™ Terhadap Jamur

Pendahuluan
Iklim Indonesia yang hangat dan lembab, ciri khas negara tropis, sangat memungkinkan bagi pertumbuhan beraneka jenis jamur. Suhu dan kelembaban merupakan faktor penting bagi pertumbuhan beberapa jenis mikroorganisme, seperti jamur. Tingkat pertumbuhan jamur yang cukup tinggi dapat dilihat dari pola pertumbuhan jamur yang merambah ke bangunan perumahan, meliputi kusen, pintu, furnitur dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini menimbulkan kerugian ekonomis yang tinggi untuk penggantian bagian bangunan yang mengalami proses dekomposisi oleh jamur. Pada umumnya, Jamur dari kelompok Basidiomycetes merupakan jamur perusak yang biasa dijumpai, yang dikenal dengan jamur pelapuk. Jamur pelapuk dibagi dalam 2 kelompok, Jamur Pelapuk Putih (JPP) dan Jamur Pelapuk Coklat (JPC) berdasarkan pada kemampuannya mendegradasi selulosa, hemiselulosa dan lignin.

Kayu sebagai bahan dasar bangunan mengandung komponen selulosa, hemiselulosa dan lignin sehingga kayu sangat disukai jamur sebagai sumber nutrisi. Kondisi ini melahirkan pemikiran untuk memodifikasi kayu sehingga tidak disukai jamur atau pun menghambat pertumbuhan jamur pada kayu sehingga kerusakan bangunan dapat dihindari. Dewasa ini, pemakaian bahan kimia untuk menghambat pertumbuhan jamur merupakan teknik pengawetan kayu yang populer di kalangan akademisi dan industri. Beberapa bahan kimia seperti klorpirifos, CCB dan lain-lain merupakan jenis bahan aktif yang biasa digunakan dalam pengawetan kayu.

Aplikasi pengawetan kayu secara kimiawi dapat dilakukan melalui proses pelaburan,pencelupan, perendaman dan lain sebagainya. Efikasi suatu bahan pengawet kayu dapat diketahui dengan melakukan uji pelapukan terhadap jamur pelapuk coklat dan jamur pelapuk putih yang mengacu pada standar JWPA no. 3 tahun 1992 dan atau JIS K 1571: 2004. Dengan demikian, pengujian kayu terhadap jamur dapat memberikan informasi yang bermanfaat tentang bahan pengawet kayu yang bisa diaplikasikan dalam industri perkayuan.

Metode
Preparasi Sampel Kayu
Sampel kayu dipotong dengan ukuran 2 x 2 x 1 cm. Selanjutnya sampel kayu tersebut diberi perlakuan bahan kimia dengan metode rendam selama beberapa menit, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat kering oven sebelum pengujian (ODW1). Kemudian sampel disterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi oleh mikroorganisme lain.

Media
Media yang digunakan adalah media untuk menumbuhkan jamur dari kelas Basidiomycetes, yaitu media JIS modifikasi dengan komposisi media/L adalah sebagai berikut: 3 g KH2PO4, 2 g MgSO4.7 H2O, 25 g glucose, 5 g peptone, 10 g Malt Extract, dan 1000 ml akuades. Semua bahan dilarutkan di dalam air akuades, kemudian disterilisasi dengan autoklaf selama 15 menit pada suhu 121ºC. Media ini merupakan media yang akan digunakan untuk media pertumbuhan dan media pengujian jamur. Pertumbuhan jamur dipelihara di dalam Erlenmeyer dengan kondisi agitasi pada kecepatan ± 80 – 100 rpm (shaking culture) selama ± 5 hari.

Inokulum Jamur
Inokulum jamur yang digunakan adalah JPP dari jenis Trametes versicolor, sedangkan JPC yang digunakan adalah Fumitopsis palustris. Kedua jamur ditumbuhkan di media agar miring selama ± 7 hari sebelum dipindahkan ke dalam media JIS modifikasi di dalam erlenmeyer. Inokulum jamur yang telah disiapkan ke dalam erlenmeyer dipindahkan ke media pengujian. Kemudian jamur dibiarkan tumbuh selama ± 7 hari sehingga menutupi seluruh lapisan permukaan media pengujian.

Pengujian sampel kayu terhadap jamur
Sampel kayu yang telah disterilisasi dimasukkan ke dalam media pengujian. Media pengujian terdiri atas 250 g pasir kuarsa dan 80 ml media cair di dalam botol selai (200 g pasir dengan 45 ml untuk JPP atau 40 ml untuk JPC). Selanjutnya media dan sampel kayu tersebut diinkubasi selama ± 2 bulan. Di akhir masa inkubasi, sampel kayu dibersihkan dari sisa-sisa jamur, kemudian dikeringkan dan ditimbang untuk mengetahui berat kering oven setelah pengujian (ODW2). Hasil pengujian diketahui dari nilai kehilangan berat pada kayu sampel (weight loss).

Nilai weight loss (WL) diperoleh dengan rumus:

ag9

ODW1 = berat kering oven sebelum pengujian
ODW2 = berat kering oven setelah pengujian

Hasil
Hasil interaksi jamur JPP dan JPC dengan sampel kayu selama waktu pengujian menunjukkan terjadi weight loss atau pengurangan berat sampel kayu (Gambar 12 dan 13). Hal ini mengindikasikan bahwa interaksi sampel kayu dengan kedua jenis jamur tersebut memberi pengaruh negatif terhadap properti sampel kayu. Dalam hal ini kedua jamur memanfaatkan properti sampel kayu, seperti selulosa, hemiselulosa ataupun lignin sebagai sumber nutrisi jamur sehingga sampel kayu menjadi lebih ringan dan rapuh. Perbandingan sampel kayu yang diberi bahan kimia dan tanpa perlakuan bahan kimia menunjukkan adanya perbedaan weight loss yang cukup signifikan setelah diinteraksikan dengan kedua jenis jamur. Gambar 12 dan 13 menunjukkan bahwa sampel kayu dengan perlakuan bahan kimia memiliki nilai weight loss yang lebih kecil dibandingkan sampel kayu tanpa perlakuan bahan kimia (kontrol), yang berarti bahwa sampel kayu dengan perlakuan bahan kimia bersifat lebih tahan terhadap invasi jamur JPP dan JPC dibandingkan sampel kayu kontrol. Dapat diasumsikan bahwa bahan kimia yang digunakan memiliki sifat menghambat pertumbuhan jamur JPP dan JPC pada sampel kayu.

af1

Gambar 12. Nilai weight loss sampel kayu dengan perlakuan bahan kimia dan sampel kontrol setelah interaksi dengan JPP

 

af2

Gambar 13. Nilai weight loss sampel kayu dengan perlakuan bahan kimia dan sampel kontrol setelah interaksi dengan JPC

 

af3

Gambar 14. Keadaan contoh uji kayu perlakuan selama pengujian A= media agar, B= media tanah, C= media pasir kuwarsa

 

af4

Gambar 15. Keadaan contoh uji kayu kontrol selama pengujian A= media agar, B= media tanah, C= media pasir kuwarsa

 

af5

Gambar 16. Keadaan contoh uji kayu perlakuan setelah pengujian

logo-ksj2013