Efikasi Larutan 8 Dewa™ Terhadap Kumbang/Borer

Pendahuluan
Disamping rayap, serangga perusak kayu yang potensial di Indonesia adalah bubuk kayu kering. Jenis serangga tersebut banyak menyerang peralatan rumah tangga seperti mebeler, almari, dll.

Heterobostrychus aequalis adalah serangga hama perusak kayu yang termasuk family Bostrychydae. Di Indonesia jenis ini termasuk ke dalam kelompok bubuk kayu kering. Sementara para ahli banyak yang memberi nama powder post beetle. Zat pati merupakan makanan utamanya. Adapun jenis kayu yang menjadi sasaran adalah yang mempunyai kandungan pati lebih tinggi dari 3%. Serangga betina tidak akan meletakkan telur pada kayu yang mempunyai kandungan pati di bawah 3%. Disamping kandungan pati, ukuran pori kayu juga sangat menentukan syarat untuk tempat hidupnya. Biasanya jenis kayu yang mempunyai ukuran pori besar dipilih oleh serangga betina untuk meletakkan telur. Jenis kayu yang mempunyai ukuran pori besar dan kandungan pati yang tinggi dalam jangka waktu satu bulan setelah kering dapat hancur diserang oleh serangga tersebut. Pengaruh lingkungan yang merupakan kendala hidupnya yaitu temperatur dan kelembaban udara. Temperatur 25°C – 32°C dan kelembaban ± 70% merupakan faktor yang cocok untuk hidupnya.

Metode Pengujian Bubuk Kayu Kering
Pengujian mengacu pada standar SNI 01-7207-2006, kayu berukuran 10 x 5 x 0.5 cm yang kontrol maupun perlakuan yang akan diuji terlebih dahulu dioven pada suhu pada suhu 600°C selama 3 hari untuk mengetahui beratnya.

ag5

Gambar 10  Serangga yang digunakan (A), memasukkan serangga dalam lubang (B) dan contoh uji yang sedang dalam pengamatan.

Masing-masing pasangan (4 pasang treatment dan 4 pasang kontrol) direkatkan pada lempengan aluminium dengan ukuran yang sama yang telah diberi lubang sebanyak 16 buah. Sebelum sepasang kayu tersebut direkatkan, 1 ekor larva kumbang/borer dimasukkan ke dalam masing-masing lubang, kemudian diikat denga karet. Contoh uji kayu dimasukkan dalam ruangan gelap dengan suhu 28°C selama 4 minggu. Pengamatan dilakukan pada akhir pengujian berdasarkan derajat serangan dan derajat kerusakan.

Tabel 1 Derajat serangan bubuk kayu kering.

ag6fix

Hasil
Hasil pengamatan yang berupa nilai rata-rata nilai dan keadaan contoh uji yang diawetkan dibandingkan dengan kontrol dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Hasil Pengujian terhadap bubuk kayu kering (Heterobostrychus aequalis).

ag7fix

Untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet terhadap serangan bubuk kayu kering dilakukan analisa statistik. Hasil perhitungan nilai contoh uji dengan menggunakan Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa pada kontrol dan perlakuan kayu yang diuji mempunyai proteksi terhadap serangga berbeda nyata dengan kayu yang tidak diawetkan (kontrol).

Derajat proteksi kayu yang diawetkan tersebut tidak terjadi serangan sama sekali bahkan serangga yang ada didalamnya mati semua. Hal tersebut berbeda dengan contoh uji kayu yang tanpa perlakuan (Kontrol) Demikian pula perhitungan analisa statistik mortalitas serangga dengan menggunakan uji beda t-Dunnet menunjukkan beda nyata. Mortalitas serangga pada kayu yang diawetkan menunjukkan lebih tinggi dari pada kontrol. Namun demikian nilai 0 dengan mortalitas 100% dicapai pada kayu perlakuan.

ag8

Gambar 11  Contoh uji setelah pengujian. A=Perlakuan, B= Kontrol Terdapat lubang (Tanda panah).

logo-ksj2013