Retensi dan Penetrasi L8D™

Retensi dan Penetrasi Larutan 8 Dewa (L8D™) Produk kemasan kayu banyak dipergunakan dalam perdagangan internasional. Karena menggunakan bahan dasar kayu, produk kemasan kayu sangat berpotensi membawa berbagai macam hama dan penyakit tumbuhan. Untuk mengantisipasi hal itu, sejak tahun 2004 The International Plant Protection Convention (IPPC) telah menetapkan Standard ISPM #15 (International Standard Phytosanitary Measure #15), yaitu peraturan tentang standar internasional kesehatan tumbuhan terhadap produk kemasan kayu, guna mencegah terjadinya reinfestasi OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan). Pemerintah telah menerapkan ISPM #15 melalui peraturan menteri pertanian no. 12 tahun 2009 tentang Persyaratan dan Tata Cara Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pemasukan Kemasan Kayu Ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Meskipun telah dilakukan treatment/perlakuan sesuai standard terhadap produk kayu kemasan, sampai saat ini belum pernah diidentifikasi sejauh mana tingkat retensi dan penetrasi bahan aktif terhadap bahan kayu kemasan itu sendiri. Hal ini sangat penting, apabila terdapat larva atau telur serangga hama pada bahan kemasan kayu, hal ini berpotensi membawa bermacam hama dan penyakit tumbuhan. Untuk mengantisipasinya, diperlukan treatment menyeluruh terhadap bahan baku yang digunakan, yaitu kayu gelondongan (log) dan kayu gergajian. Bahan aktif yang digunakan adalah L8D™ (Larutan 8 Dewa™), larutan yang dikembangkan oleh PT. Karuna Sumber Jaya bekerjasama dengan Laboratorium Pengendalian Serangga Hama dan Biodegradasi, UPT. Balai Litbang Biomaterial LIPI. Sebagai parameter, digunakan pewarna nile blue, yang menjadi indikator sejauh mana penetrasi dan retensi bahan L8D™ dalam kayu gelondongan (log) dan kayu gergajian, untuk bahan kayu kemasan.

Preparasi Bahan
Bahan yang digunakan berupa log dan kayu gergajian. Pada kayu gergajian dilakukan pengeboran pada permukaan sebagai simulasi pin-hole (bekas infestasi serangga). Sebelum simulasi treatment, bahan-bahan tersebut terlebih dahulu direndam selama 24 Jam di dalam bak air.

ad5

Pengukuran Kadar Air
Pengukuran kadar air log dan kayu gergajian dilakukan dengan Moisture Content Tester

.ad6

Penyemprotan (Spraying)
Log dan Kayu gergajian yang telah direndam selama 24 jam kemudian di spray pada seluruh bagian permukaan menggunakan larutan L8D™ yang ditambahkan indikator warna nile blue dengan konsentrasi 0.05%. Spraying dilakukan sebanyak 4 kali dengan interval waktu penyemprotan selama 20 menit.

ad7

Gambar 3. Penyemprotan larutan warna pada log (atas) dan kayu gergajian (bawah)

Pengukuran penetrasi
Pengamatan penetrasi dilakukan 24 jam setelah spraying dilakukan. Log dan kayu gergajian dipotong arah memanjang dan melintang, kemudian diamati sejauh mana larutan L8D™ yang direpresentasikan oleh indikator warna Nile Blue masuk kedalam log dan kayu gergajian. Pada log diamati seluruh bagian log, kulit yang terkelupas dan simulasi pin-hole. Sedangkan pada kayu gergajian diamati seluruh bagian kayu gergajian dan pin-hole.

ad8

ad9

Log
Berdasarkan pengamatan hasil spraying larutan menyebar ke seluruh permukaan log (Gambar 5a dan 5b). Adapun kadar air log kayu adalah sebesar 85.82%

ac1

Hasil pemotongan log menunjukkan larutan menembus pori-pori kayu (Gambar 6.a dan Gambar 6.b) dan mampu menjangkau bagian bawah kulit yang terkelupas (Gambar 7.a dan Gambar 7.b).

ac2

Pada perlakuan spraying simulasi pin-hole diketahui larutan warna juga mampu menembus bagian simulasi pin-hole (Gambar 8)

ac3

Kayu gergajian
Kadar air kayu gergajian berdasarkan pengukuran moisture meter adalah 85.82%. Hasil pengamatan pada kayu gergajian menunjukkan larutan menyebar ke seluruh bagian kayu gergajian (Gambar 9a dan 9b).

ac4

Dari hasil pemotongan, diketahui bahwa larutan mampu menembus pori-pori kayu (Gambar 10.a dan 10.b) dan pin-hole (11.a dan 11.b)

ac5

 

logo-ksj2013